banner 728x250

Perajin Bordir Tak Mampu Layani Pesanan Stelan Baju Koko Anak

banner 120x600
banner 468x60

KLIK PRIANGAN-Suara mesin jahit menderu-deru saling bersahutan dari sejumlah kawasan yang menjadi sentra kerajinan bordir di kota Tasikmalaya. Hal itu pun telah menjadi tradisi yang selalu mewarnai menjelang dan saat berlangsungnya ibadah Ramadan.

Dalam durasi waktu itu, permintaan akan produk seperti baju Koko, mukena, kopeah dan lainnya menunjukan tren peningkatan. Sehingga setiap rumah produksi memberlakukan kerja lembur untuk menyelesaikan pesanan.

Meningkatnya pesanan tak hanya dialami perajin berskala besar, perajin kecil pun mengalami hal serupa. Hal itu diakui Elan Jaelani, salah seorang perajin bordir baju koko warga Kampung Bantargedang RT.02 RW. 09, Kersanegara, kecamatan Cibeureum Kota Tasikmalaya.

Malah pesanan sudah datang sejak beberapa bulan menjelang Ramadan . “Jadi hari ini pesanan sudah kewalahan bahkan overload,” ungkap Elan di rumah tinggalnya yang dijadikan ruang kerjanya, akhir pekan lalu.

Pemilik rumah produksi berlabel Widiant ini mengaku usaha produksi bordir baju Koko yang dirintisnya sejak tahun 2000 hanya mampu melayani pesanan di pasar lokal Priangan Timur seperti Pasar Cikurubuk Tasikmalaya, pasar Sumedang, Ciamis, Kawali, Banjar serta Pangandaran.

“Pasar saya terbatas hanya di beberapa pasar di Priangan Timur karena sistem penjualannya pun masih dari pasar ke pasar tidak melalui online seperti perajin besar yang lainnya,” kata Elan.

Elan mengakui dengan keterbatasan karyawan yang hanya sepuluh orang tak mampu memanfaatan kondisi pasar yang sedang ramai terutama di produksi pakaian bordir baju Koko stelan anak yang sedang trend penjualannya saat ini.

Di hari kelima bulan suci Ramadan menurut Elan, dirinya hanya mampu melayani 2000 potong baju koko stelan. “Peningkatan pesanan mulai terasa, bahkan, saking banyaknya pesanan yang harus diselesaikan, beberapa order dari beberapa sekolah TK/PAUD dan SD terpaksa ditangguhkan,” ujar Elan.

Hal senada disampaikan oleh perajin warga Kawalu bernama A. Mulyana (49) yang membenarkan pesanan produksi bordir pakaian baju koko jelang hari raya Idul Fitri meningkat.

Adapun pesanan terbanyak berupa mukena dan busana muslim dengan berbagai motif, dengan harga bervariasi antara Rp 60 ribu hingga ratusan ribu tergantung bahan dan motif bordirnya. (Irman S)