Setelah Dua Tahun Vakum Akibat Pandemi Covid-19, Nyiar Lumar Kembali Digelar di Astana Gede Kawali

Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya menyerahkan oncor (obor) kepada panitia pelaksana Nyiar Lumar, sebagai tandai dimulainya gelaran budaya tersebut di Astana Gede Kawali, Sabtu, 24 Desember 2022./Dokumen Pemkab Ciamis.*

KLIKPRIANGAN – Setelah dua tahun vakum akibat terkendala Pandemi Covid-19, gelaran budaya Nyiar Lumar yang menjadi salah satu kegiatan budaya kebanggaan seniman dan budayawan Ciamis kembali bisa digelar di Astana Gede Kawali, Ciamis, Sabtu, 24 Desember 2022.

Kendati hujan mengguyur kawasan kompleks Astana Gede Kawali Ciamis, namun hal itu tak menyurutkan tekad para seniman dan budayawan untuk menggelar acara tersebut.

Para seniman dan budayawan Ciamis, Tasikmalaya, dan sekitarnya tetap bertahan dan menggelar acara dari awal hingga akhir.

Tampak hadir dalam acara Nyiar Lumar tersebut, budayawan Godi Suwarna, Taufik Faturahman, Iyus Jaro, Dadang Qmos, Pandu Radea, Atus Kuswara, juga Ridwan Hasyimi, dan lainnya.

Acara Nyiar Lumar ini dimulai dengan helaran penampilan Bebegig Baladewa, Munding Ki Bowang, Buta Kararas, Kuda Bajir dan Mengmleng yang berjalan mengitari kawasan kecamatan Kawali dengan start dan finis di Kantor Kecamatan Kawali, pada Sabtu siang.

Dalam acara itu, ditampilkan pula Musik Kolaborasi dari Komunitas PURWA Kawali, Tari Raga-Wi dari SMP 1 Kawali), Ansamble Perkusi SMPN 2 Kawali, Pembacaan Puisi oleh Lingga Dwi Pantara, serta Jaipongan Sancang Gugat dari SMKN 1 Kawali.

Seniman dan budayawan asal Pagerageung Tasikmalaya, Taufik Faturahman pun ikut hadir dengan menampilkan Sudong alias Sulap dan Dongeng.

Di malam harinya, acara Nyiar Lumar dipungkas dengan penampilan Ronggeng Gunung Panggugah Rasa dari Banjarsari.

Acara yang biasa digelar oleh warga Kecamatan Kawali serta para seniman dan budayawan Ciamis setiap dua tahun sekali tersebut disaksikan langsung oleh Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya beserta jajaran Forkopimda Ciamis.

Salah seorang budayawan Ciamis, Iyus Jaro mengatakan, tradisi budaya tersebut sempat tidak dilaksanakan pada tahun 2020 akibat adanya pandemi Covid 19, sehingga baru bisa dilaksanakan kembali pada tahun ini.

“Alhamdulillah, setelah dua  tahun lamanya seniman dan budayawan terpaksa ‘tiarap’, kini bisa kembali beraktivitas dan mengekspresikan karya-karyanya,” kata dia.

Iyus Jaro mengatakan, Nyiar Lumar mengandung arti kembali mendekatkan diri dengan alam serta upaya kontemplasi merenungi akar-akar kehidupan.

Secara harfiah, kata dia, kata Nyiar Lumar ini terdiri dari dua kata, yaitu Nyiar yang berarti mencari dan Lumar merupakan sejenis jamur yang bercahaya.

Jadi, kata dia, Nyiar Lumar itu secara arti kasarnya, adalah mencari jamur yang bercahaya di malam hari.

“Namun secara hakiki, Nyiar Lumar ini mengandung arti perjalanan kontemplatif, kembali mendekatkan diri dengan alam, merenungi akar-akar kehidupan,” katanya.

Sementara itu, dalam sambutannya, Bupati Ciamis, Herdiat Sunarya memberikan apresiasi kepada para seniman yang telah kembali menggelar kegiatan budaya yang telah vakum selama dua tahun.

“Kami berikan apresiasi kepada pada budayawan, seniman yang telah mendukung kegiatan Nyiar Lumar ini,” ucapnya.

Dia juga mengatakan bahwa gelar budaya Nyiar Lumar ini merupakan tradisi budaya kebanggaan Ciamis yang hanya ada di Kawali.

“Ini satu-satunya kegiatan budaya di Indonesia bahkan di dunia yang  hanya ada di Kawali Ciamis,” kata bupati.

Dia berharap, kegiatan budaya Nyiar Lumar ini tetap lestari dan secara rutin digelar oleh para seniman dan budayawan Ciamis. Kepala Disbudpora Ciamis, Erwan Darmawan  mengatakan, dalam  kegiatan budaya tersebut menampilkan 31 kelompok seni yang ada di Kabupaten Ciamis dan lima kelompok seni yang berasal dari luar Ciamis.***

Exit mobile version