banner 728x250

Di Kota Tasikmalaya, Sektor Peternakan Kurang Diminati Karena Rendahnya Daya Dukung Pemerintah

banner 120x600
banner 468x60

PARA peserta bimtek pengembangan peternakan bersama para pemateri di Hotel Horizon Kota Tasikmalaya.*

KLIK PRIANGAN – Populasi hewan ternak yang tersedia di Kota Tasikmalaya mulai sapi, kambing, domba, kerbau hingga beragam jenis unggas nyatanya tidak sebanding dengan jumlah warga Kota Tasikmalaya yang mencapai lebih dari 700.000 orang.

Untuk populasi sapi misalnya, tercatat hanya mencapai sekitar 2.100 ekor, kemudian domba (13.000), kambing (6.000) dan kerbau (600). Hal itu membuat pemenuhan kebutuhan hewani masyarakat Tasik masih bergantung dari luar daerah.

“Hal itu menjadi satu persoalan dan perlu dianalisa kenapa masyarakat di sini tak tergerak melirik usaha peternakan. Karena jika melihat pangsa pasar, lini usaha sektor peternakan termasuk unggas masih sangat terbuka lebar,” kata Anggota Komisi XI DPR RI, M. Haerudin Amin, S.Ag, MH, saat menggelar bimtek pengembangan peternakan bersama Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan di Ballroom Hotel Horison Kota Tasikmalaya, Kamis, 2 Maret 2023, lalu.

Hadir pada acara itu, Cecep dari Balai Embrio Ternak (BET), Cipelak, Kabupaten Bogor, Anggota Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) DPRD Kota Tasikmalaya Bagas Suryono, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan (DKP3) Kota Tasikmalaya H. Cecep Kustiawan serta ratusan peserta bimtek.

Menurut Haerudin, rendahnya tingkat pemeliharaan hewan ternak di Kota Tasikmalaya terjadi karena mindset masyarakat tentang peternakan masih kurang. Sebaliknya, daya dukung pemerintah untuk pengembangan sektor peternakan juga masih minim.

“Kalau kenyataannya begini boleh jadi peternakan belum dianggap sebagai sektor strategis. Saya yakin anggaran dari APBD juga minim,” kata dia.

Oleh karena itu, dia menggandeng Dirjen Peternakan agar dapat mengembangkan dan menciptakan peternak sehingga dapat meningkatkan jumlah kebutuhan daging hewan khususnya di Kota Tasikmalaya. Karena kontribusi sektor pertanian sangat besar dan terbukti saat pandemi Covid dimana saat sektor lain melakukan PHK, sektor pertanian justru menyerap banyak tenaga kerja.

Menurutnya, masih tingginya angka stunting di Kota Tasikmalaya juga dimungkinkan karena pasokan gizi dari hewani tak terjangkau. Hal itu terjadi karena harga daging mahal sebagai akibat hewan ternak didatangkan dari luar.

“Kalau banyak peternak lokal, mungkin harga lebih murah dan terjangkau,” ujar Bagas yang juga anggota Komisi 4 DPRD Kota Tasikmalaya.

Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan H. Cecep Kustiawan mengapresiasi positif bimtek ini untuk memacu minat masyarakat melirik usaha peternakan sehingga dapat memberikan kontribusi positif dalam peningkatan ekonomi pascapandemi. (P-3)***