banner 728x250

Kepala Sekolah SMAN 1 Tasikmalaya Bantah Adanya Intimidasi dalam Peristiwa Dugaan Kekerasan Terhadap Siswinya

Kepala Sekolah SMAN 1 Kota Tasikmalaya saat memberikan penjelasan terkait dugaan kekerasan di sekolahnya. (Malik Ibrahim/"Klik Priangan").***
banner 120x600
banner 468x60

Kepala Sekolah SMAN 1 Kota Tasikmalaya saat memberikan penjelasan terkait dugaan kekerasan di sekolahnya. (Malik Ibrahim/”Klik Priangan”).***

KLIK PRIANGAN – Terkait dengan dugan kekerasan terhadap siswi salah satu SMA Negeri ternama di Kota Tasikmalaya, ternyata intimidasi dan kekerasan tersebut dibantah oleh pihak sekolah.

Kejadiannya sendiri terjadi di SMAN 1 Kota Tasikmalaya pada Selasa (16/5/2023), siswi hingga alami luka bocor di pelipis kirinya. Dalam kasus yang mencuat di media sosial itu, sebenarnya sudah islah pada Rabu (17/5/2023) dan tidak ada intimidasi.

Hanya saja yang jadi pemantik kembali mencuat kasus itu disaat ada pertemuan antara orang tua siswa pada Jumat (19/5/2023).

Kepala Sekolah SMAN 1 Kota Tasikmalaya DR. H. Yonandi S.Si, M.T mengungkapkan kronologis awalnya bisa terjadi dugaan kekerasan tersebut. Pertengkaran terjadi disaat jam pelajaran habis dan pergantian guru.

Sesaat guru pengganti guru sebelumnya yang hendak mengajar di kelas 11 itu, masuk kelas namun tak lama karena kebelet dan keluar kembali dari kelas.

Pada saat itu, siswa berinisial F iseng melempar butiran tembok kelas ke siswa berinisial A (diduga pelaku, red). Sekali lempar A masih diam, kedua kali masih bisa nahan kesabaran namun disaat ketiga kalinya melepar kerikil itu ke kepala siswa A langsung emosi.

A berdiri lalu menghampiri F, sempat terjad cek cok, lalu F memukul dan dibalas oleh A. pertengakaran tersebut sempat dilerai oleh siswa lainnya berinisial AG.

Namun malah terjadi pertikaian ketiganya, dimana AG malah ikut memukul serta mendorong A. Sehingga A tersungkur akan tetapi sebelum jatuh tersungkur, tangan A sempat mencakar mulut AG. Seketika mulut AG alami luka dan mengeluarkan darah.

Keributan di dalam ruang kelas tersebut, terus berlanjut ketika siswi Z (diduga korban kekerasan, red) menghampiri A. Pada saat itu, Z dalam posisi membela siswa F dan AG.

Siswa A merasa disudutkan oleh siswi Z hingga kepalanya ditoyor dan membentur sudut papan tulis hingga luka di pelipis kirinya. Namun sebelum ditoyor, Z sempat menampar A.

“Siswi Z tidak dipukul namun secara refleks A mendorongnya hingga Z terbentur tembok dan ujung papan tulis dikelas. Hingga mengalami luka di pelipis,” kata Yonandi, di ruang diskusi sekolah tersebut, Senin (22/5/2023).

Pertikaian empat siswa itu, membuat kaget sang guru ketika kembali dari toilet. Ia mendapati anak didiknya alami luka dan berdarah. Sektika pihak sekolah membawa siswa yang luka ke ruangan pertolongan pertama.

Khawatir dengan lukanya, pihak sekolah akhirnya membawa siswi Z dan AG membawanya ke RSUD Dr Soekardjo untuk ditangani medis. Sedangkan A dan F digiring pihak sekolah ke ruangan bimbingan konseling.

“Anak didik yang alami luka ditangani medis di UGD RSUD Dr Soekardjo. Lukanya itu dijahit. Nah besoknya, setelah peristiwa itu langsung dimediasi dan didamaikan di Polres Tasikmalaya Kota,” katanya. (P-2).

Sementara pihak sekolah juga membantah adanya intimidasi dari orang tua siswa A terhadap siswi Z. Selain itu, orang tua A juga bukan pejabat dari Kemendikbud. Namun ASN yang bertugas di Balai Besar Guru Penggerak Provinsi Jawa Barat. (P-2).***