banner 728x250

Mahasiswi Dampingi Siswi Korban Pelaku Teror Om om di Tasikmalaya, Hingga Kasusnya Tuntas

Mahasiswi yang tergabung dalam KOPRI PMII Tasikmalaya, kunjungi korban dan keluarganya, untuk pastikan kawal kasus tersebut hingga tuntas. (Malik Ibrahim/'Klik Priangan").***
banner 120x600
banner 468x60

Mahasiswi yang tergabung dalam KOPRI PMII Tasikmalaya, kunjungi korban dan keluarganya, untuk pastikan kawal kasus tersebut hingga tuntas. (Malik Ibrahim/’Klik Priangan”).***

KLIK PRIANGAN – KOPRI PMII Tasikmalaya melakukan kunjungan terhadap korban tak senonoh yang dilakukan oleh Pria paruh baya berinisial GS(40) terhadap korban berinisial O (16)

Ketua KOPRI PMII beserta Sekretaris KOPRI PMII Tasikmalaya menelusuri asal mula permasalahan besar ini bisa terjadi dan viral .

Ketua KOPRI PMII Kota Tasikmalaya Annisa Permata Bunda menyebutkan bahwasannya pelaku tersebut bukan lagi memiliki rasa suka melainkan rasa obsesi terhadap O (16)

“Menurut saya, pelaku bukan memiliki rasa sayang ataupun sebagainya. Tetapi pelaku sudah memiliki rasa obsesi yang mendalam terhadap korban sehingga hal – hal semacam perusaksn rumah bisa terjadi” ujarnya.

Setelah hampir 3 tahun korban di ikuti kehidupannya oleh pelaku, sampai hari rabu 5/04/2023 pelaku di tangkap oleh kapolsek setempat dikarenakan masyarakat setempat melakukan pelaporan kepada Polsek setempat.

Pelaku sudah di pindahkan ke Kapolres Tasikmalaya. Ketua KOPRI PMII Tasikmalaya Annisa Permata Bunda mengharapkan hukuman yang akan membuat jera terhadap pelaku.

“Harapan saya semoga kapolres bisa memberikan hukuman yang setimpal dengan apa yang sudah dilalukan pelaku, agar nantinya ketika pelaku terbebas ditakutkan adanya rasa kesal dan dendam terhadap korban dan keluarga sehingga melakukan hal – hal yang tidak diinginkan lagi” tegad Ketua Kopri PMII Tasikmalaya.

Sekretaris KOPRI Neng Isa Denisa juga mengharapkan pihak PPA dan KPAD Kota Tasikmalaya senantiasa membantu tumbuh membaiknya perkembangan psikologi korban.

“Selain kami KOPRI PMII mendampingi pemulihan psikologi korban karena trauma dan rasa was – was ini perlu dihilangkan agar korban bisa ceria kembali. Perlu adanya pendampingan juga dari pihak PPA dan KPAD Kota Tasikmalaya untuk kesembuhan psikologi korban, dikarenakan korban memiliki rasa was – was terhadap lingkungan nya. Ditakutkan korban tidak mau bersosialisasi lagi setelah adanya kejadian ini” tutur Neng Isa

Neng Isa Denisa Sekretaris KOPRI PMII menegaskan akan mengawal kasus ini sampai jatuhan hukuman dan psikologi korban pulih, karena Annisa khawatir akan terjadi hal seperti ini kepada anak anak yang lain.

“Kami dari KOPRI PMII Tasikmalaya akan senantiasa memantau, mendampingi, dan mengawal kasus ini . Karena ditakutkan akan terjadi juga kasus serupa kepada anak yang lain” tegas Neng Isa

Ketua Kopri PMII juga mengharapkan perlu adanya edukasi kepada masyarakat agar kasus serupa tidak lagi terjadi setelah ini .

“Saya mengharapkan kasus pelecehan, kekerasan, terhadap anak dan perempuan di Kota Tasikmalaya berkurang, hal ini dikarenakan kurangnya edukasi perihal kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan dan anak, sehingga hal seperti ini terus saja terjadi”

“Perlu adanya edukasi kepada masyarakat kota Tasikmalaya untuk setidaknya mengetahui efek dan hal hal yang akan terjadi apabila hal ini terus berulang, bagaimana kita sebagai perempuan bisa merasakan keamanan dan kenyamanan ketika lingkungan kita terlalu toxic untuk di tinggali” tambah Annisa. (P-2).***