banner 728x250

Saluran Air Sudah Banyak Rusak, Petani Keluhkan Ganggu Suplai Air

banner 120x600
banner 468x60

KLIK PRIANGAN – Saluran air untuk pertanian di blok Sawah Lungguh dan Sawah Karag, Desa Gerba,Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis mengalami kerusakan cukup parah. Akibat kondisi tersebut dikeluhkan petani karena suplai air menjadi terganggu. Petani berharap perbaikan secepatnya bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan tanam padi.

Salah satu petani blok sawah Lungguh, Empi (78) mengatakan, kerusakan saluran air yang diambil dari sumber mata air Ciawitali, Blok Pasir Buntu, Desa Gerba sudah cukup lama terjadi. Kerusakan disebabkan karena hampir disepanjang saluran sudah banyak yang bocor sehingga memicu tebing saluran banyak yang longsor sehingga membuat pasokan air jadi terbuang percuma.

” Sejak kami mengolah lahan sawah di blok Lungguh, belum pernah ada perbaikan saluran air dari sumber mata air Ciawitali, sehingga semakin lama pasokan air jadi banyak yang terbuang percuma, ” jelasnya

Empi juga menyampaikan, dampak dari kerusakan saluran air tersebut tidak hanya dirasakan petani yang ada di wilayah blok sawah Lungguh saja tapi juga di blok sawah Karag. Sebab saluran air tersebut mengairi puluhan hektar sawah dibeberapa blok di Desa Gerba.

Empi juga mendesak agar kerusakan saluran air segera diperbaiki secepatnya. Sebab sangat berpengaruh pada sawah karena suplai air menjadi terganggu. Selain itu akibat kerusakan saluran juga membuat banyak sawah yang tidak ada pasokan air akibat air byak terbuang percuma.

Hal yang sama dikeluhkan Ahmad ( 75) petani di blok sawsh Karag, yang dialami sebagian petani di Desa Gerba itu bukan saja masalah saluran air, tetapi masalah kekompakan dalam pola tanam.

” Yang dialami sejumlah petani di wilayah Desa Gerba dari dulu itu bukan saja masalah saluran air, tapi masalah kekompakan dalam pola tanam. Pasalnya, akibat pola tanam yang tidak kompak tanaman padi terserang hama dan jadi gagal panen, ” ungkapnya.

Dirinya berharap, pihak Pemdes dan PPL setempat segera turun tangan guna mengatasi hal ini. Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan bimbingan dari pihak terkait yang tegas, kalau hanya mengandalkan kesadaran petani cukup sulit ” kalah pa deugeung, deugeung,” pungkasnya. ( Endang SB).