banner 728x250

Kepala SMPN 1 Cisayong: Menyambut Paradigma Baru Pendidikan, Butuh Kebersamaan

Hj. Dida Nurhayati, M.Pd
banner 120x600
banner 468x60

Menyikapi adanya polemik yang terjadi di sekolahnya, Kepala SMPN 1 Cisayong, Hj. Dida Nurhayati, S.Pd, M.Pd mengaku prihatin. Karena polemik tersebut juga melibatkan para siswa.

“Jujur, saya sangat prihatin. Dunia pendidikan marwahnya sudah hilang. Lebih-lebih ketika mendengar bahwa anak didik yang selama ini kita didik dan kita arahkan, seolah membuat perilaku yang tidak akan baik bagi sekolah,” katanya.

Hal ini, kata Dida, akan menjadi perhatiannya secara khusus. Ke depan, sekolah ini akan meningkatkan pendidikan akhlakul karimah, sehingga output pendidikan tidak hanya unggul dan berprestasi dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi saja, juga menghasilkan anak didik yang berakhlak mulia.

“Mungkin kedatangan saya ke sekolah ini dengan membawa perubahan tentu akan berdampak pada perubahan kebiasaan, yang bagi sebagian orang mungkin dapat mengakibatkan ketidaknyamanan,” katanya.

Tentu saja dengan perubahan ini akan membuat perbedaan dengan situasi sebelumnya. “Tapi Alhamdulillah hal ini ternyata diharapkan oleh sebagian besar warga sekolah. Kondisi sekolah tetap kondusif dan baik-baik saja,” katanya.

Karena faktanya, kata dia, KBM tetap berjalan seperti biasa, begitu juga dengan berbagai kegiatan di sekolah, seperti ekstra kurikuler. Guru-guru pun, kata dia, tetap melaksanakan tugasnya, memberikan pendidikan kepada anak didik.

Dida pun menjelaskan, sejak bertugas di SMPN 1 Cisayong ini, dirinya memastikan setiap pagi berkeliling untuk melihat apakah anak-anak sudah ada gurunya di tiap-tiap kelas.

“Kalau ada yang tidak masuk, itu ada di catatan dan saya berkoordinas dengan guru piket, untuk menangani agar di kelas tidak sampai terjadi tidak ada guru. Bahkan terkadang saya pun ikut mengajar jika di kelas tidak ada guru,” katanya.

Dida melanjutkan, perubahan juga dilakukan dalam hal transparansi keuangan. Dirinya, kata Dida, justru berusaha membenahi administrasi yang tidak tertib. Berdasarkan pengalaman, kata dia, di sekolah-sekolah yang sebelumnya sempat dipimpinnya, administrasi keuangannya tidak seperti di SMPN 1 Cisayong ini.

“Makanya saya berusaha menertibkan administrasi keuangan serta pelaporannya, sesuai dengan aturan dan juklak dan juknis yang berlaku,” katanya seraya menegaskan bahwa segala keputusan yang diambilnya, selalu berdasarkan aturan dan juga selalu melibatkan seluruh stake holder sekolah.

Dida pun mengatakan bahwa paradigma pengelolaan sekolah dan paradigma pendidikan saat ini sudah sangat berubah jauh. Dirinya, kata Dida, berusaha untuk menerapkan paradigma baru dalam hal managerial sekolah ini, yaitu dengan melibatkan stakeholder sekolah.

“Namun kalau memang ada masukan-masukan seperti itu terhadap saya, saya ucapkan terima kasih. Namun yang perlu saya tekankan, polemik yang terjadi ini sangat merugikan lembaga ini,” katanya.

Mengenai hak tunjangan sertifikasi guru, lanjutnya, tentu saja disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku, sesuai dengan Permen No 15 tahun  2018 tentang beban kerja guru. Maka, kata dia, seluruh guru wajib atau memiliki beban kerja 7,5 jam per hari atau sepekan 37,5 jam pelajaran.

Data-data tentang kehadiran guru di kelas, kata Dida, dapat dilihat dalam catatan “Daftar Hadir Kunjungan Kelas”. Di daftar tersebut, catatan seluruh guru yang hadir di dalam kelas itu ada. “Ketidakhadiran guru ke dalam kelas, apalagi selama Agustus dan September, tentu berdampak pada hak tunjangan sertifikasi yang diperoleh guru, sesuai dengan Permen 15 tahun 2018,” katanya.

Dida mengatakan, dibalik polemik yang terjadi di SMPN 1 Cisayong ini, dirinya meyakini ada rencana Allah yang terbaik yang akan diberikan kepada SMPN 1 Cisayong, maupun kepada dirinya sendiri secara pribadi.

“Untuk itu saya mengimbau kepada anak-anak agar terus belajar dengan semangat dan sungguh-sungguh, jaga kesehatan dan jaga sikap terhadap siapapun. Karena orang yang sukses bukan hanya pintar dan cerdas, tetapi juga yang berakhlak mulia,” katanya.

Begitu pun kepada tenaga pendidik dan kependidikan, Dida mengajak untuk terus bekerja dengan tulus untuk mencetak anak-anak bangsa yang berprestasi. “Jangan ada keraguan dan kecemasan. Saat ini kita akan menyongsong paradigma baru, yaitu Kurikulum Merdeka. Tentunya ini butuh kerjasama yang luar biasa dari seluruh guru,” katanya.

Begitupun kepada para alumni, Dida berharap mendapatkan dukungan penuh dari alumni untuk mengembangkan pendidikan di SMPN 1 Cisayong ini. “Yang paling utama adalah komunikasi. Saya sangat terbuka untuk berkomunikasi dengan siapapun, termasuk juga dengan alumni untuk memajukan sekolah yang kita cintai ini,” katanya.

Dida juga mengingatkan bahwa keberhasilan suatu sekolah bukanlah keberhasilan pribadi, tetapi hasil kerja keras dan kerja sama seluruh insan pendidikan yang ada di sekolah. “Satu yang kokoh di atas, tentunya akan ditunjang oleh penopang-penopang yang kuat. Mudah-mudahan kehadiran saya di SMPN 1 Cisayong ini bisa memberikan kebermanfaatan untuk sekolah ini. The Best SMPN 1 Cisayong. Necis Bangkit Necis Berprestasi,” ujarnya.***