banner 728x250

Ustadz Ishak: Zuhud dan Wa’ra, Bekal untuk Kehidupan di Akhirat Kelak

Dokumen Warga
banner 120x600
banner 468x60

KLIK PRIANGAN – Hasan Al Bashri, salah seorang tokoh sufi Islam yang hidup di generasi setelah para sahabat nabi pernah ditanya oleh seseorang tentang bekal apa yang disiapkannya di akhirat.

Hasan Al Bashri pun menjawab dengan kalimat singkat, yaitu Bi zuhdi wal wa’ra, yang artinya dengan zuhud dan wa’ra.

Zuhud, secara harfiah mengandung arti meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi kehidupan akhirat. Sementara wa’ra artinya meninggalkan hal-hal yang membahayakan bagi kehidupan akhirat.

Hasan Al Bashri memang dikenal sebagai salah satu tokoh sufi yang tingkat kezuhudannya sudah tidak diragukan lagi. Menurutnya, kehidupan di dunia hanyalah perantara untuk mendapatkan kehidupan yang kekal di akhirat.

Kisah tentang Hasan Al Bashri dan ajarannya tentang zuhud ini dipaparkan oleh Ustadz Ishak Parid, S.Pdi saat memberikan tausiyah dalam Pengajian Bulanan yang digelar di Masjid Abdullah Sobir di Komplek Pondok Jati Indah, Indihiang, Kota Tasikmalaya, Minggu (15/1/2023).

“Lantas bagaimana dengan kita? Apa bekal kita untuk di akhirat kelak? Karena jika kita sudah meninggal, tidak akan ada lagi kesempatan untuk memperbaiki amal ibadah kita,” kata Ustadz Ishak yang juga anggota DPRD Kota Tasikmalaya ini.

Ustadz Ishak pun mengutip ayat Alquran yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta dan anak-anakmu itu membuatmu lalai dari Allah”.

Maka, Ustadz Ishak pun mengingatkan kepada seluruh jemaah agar selalu mengingat kepada Allah. Karena menurutnya, salah satu hal yang membuat kita bisa zuhud adalah bahwa kita selalu mengingat Allah.

“Sehingga kita selalu menyadari bahwa Allah selalu mengawasi perbuatan kita. Dengan demikian, kita akan selalu terhindar dari perbuatan maksiat,” katanya.

Ustadz Ishak Parid saat memberikan tausiah dalam acara Pengajian Bulanan di Masjid Abdullah Sobir, Pondok Jati Indah Indihiang, Minggu 15 Januari 2023.*

Dia pun menjelaskan bahwa ada empat hal yang bisa membuat kita bisa zuhud. Pertama, kata dia, tentang rejeki yang kita terima, itu tidak akan tertukar dengan rejeki orang lain.

“Orang yang zuhud itu akan menyadari bahwa rejekinya itu sudah ditentukan oleh Allah, tidak akan tertukar dengan rejeki orang lain,” katanya.

Kedua, kata dia,orang yang zuhud akan menyadari bahwa amalannya itu harus dikerjakan sendiri dan tak bisa dikerjakan oleh orang lain.

Yang ketiga, orang yang zuhud itu akan menyadari bahwa Allah selalu mengawasinya dalam segala gerak-gerik kehidupannya.

“Yang keempat, orang yang zuhud itu sangat menyadari bahwa kematian sudah menunggu. Maka, dia akan menyiapkan bekal untuk kehidupan di akhirat kelak,” paparnya.***