banner 728x250
Opini  

Geliat Seni Rupa Tasik, “Basic Passion”: Dalam Bingkai Pameran Tiga Generasi

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Edi Purnawadi
(Pengangguran)

SEPERTI menemukan “ruang baru”, setelah lama ternina-bobokan oleh kasus Covid 19, seniman Kota Tasikmalaya langsung menumpahkan obsesi karyanya pada event-event yang dibuat dan diciptakannya sendiri. Berbagai pergelaran, pertunjukan dan pameran pun digelar secara sporadis baik di Gedung Kesenian (GK), Gedung Creative Center (GCC), kampus, kafe dan tempat-tempat lainnya, yang biasa memberi ruang bagi seniman untuk menggelar karya-karyanya.

Gairah para perupa misalnya, secara berturut-turut di bulan Mei ini menggelar pameran di Gedung Creative Center (GCC) yakni Pameran Drawing “Back to Basic” yang digelar dari 2 hingga 7 Mei 2024 dan diikuti oleh sekitar 29 perupa dari lintas generasi. Kemudian langsung disusul, masih di tempat yang sama, dengan Pameran Seni Rupa bertajuk “Basic Passion” yang digelar dari tanggal 11 hingga tanggal 15 Mei 2023. Pameran yang dikuratori oleh Nurjaman ini, dibuka oleh Kepala Dinas Pemuda, Olah Raga, Budaya dan Pariwisata (Disporabudpar) Kota Tasikmalaya, Dedi Mulyana, yang kemudian mencoretkan catnya ke kanvas kosong yang kemudian dilukis bersama.

Pameran “Basic Passion” menggelar sekitar 53 karya dari 45 perupa Tasik dari lintas generasi. Dalam pameran tersebut tercatat nama-nama perupa yang telah malang-melintang di dunia seni rupa Indonesia yang kemudian bersanding dengan perupa-perupa potensial yang nantinya diharapkan menjadi penerus dari generasi sebelumnya untuk bergelut di kancah seni rupa nasional.

Nama-nama itu, sebut saja Iwan Koeswanna, Acep Zamzam Noor, Rukmini Yusuf, Aten Warus, Yok Jafaruloh, Luki Lukita. Kemudian Yusa Widiana, Adil Dahlan, Eri Aksa, Tono Hartono, Shiva Maghura Anisa, Nana Suryana, Emi Maryuni dan disusul dengan generasi terkini Armi Maryani, Respati, Revianaya dan Najli Naili.

Dari 53 karya yang digelar dalam pameran seni rupa “Basic Passion” itu ada sekitar 21 karya yang menjadikan figur atau sosok manusia menjadi objeknya, delapan (8) karya menjadikan air (laut, sungai dan danau) sebagai objeknya dan sisanya objek karyanya bervariasi.

Secara keseluruhan, memang karya-karya perupa muda Tasik telah memberikan celah baru baik tema, gaya maupun objek garapannya. Sehingga sangat memungkinkan munculnya gaya ucap baru dengan gaya, pendekatan dan cara pandang masing-masing senimannya. Pada titik inilah, perkembangan seni rupa di Kota Tasik perlu diamini, tinggal sejauhmana potensi itu bisa terus hidup dan bergulir.

Karya berjudul “Kekuatan Budaya Indonesia” (2022), Acrilyk on Kanvas 60X40 karya Shiva Maghvira Aulia misalnya, terasa hidup, ceria dan childish. Seluruh ruang di kanvasnya penuh oleh simbol atau ikon budaya yang ada di berbagai daerah Nusantara dengan pewarnaan yang “sangat meriah”. Bahkan di tengah kanvasnya itu muncul bentangan bendera merah putih yang di atasnya ada Monas, Candi Borobudur, petani dan burung. Sementara di bawah bentangan bendera itu ada gambar Kepulauan Indonesia dan figur-figur dengan kostum daerahnya masing-masing.

Dahsyatnya, semua itu digambarkan dengan gaya childish dengan warna-warna yang ceria dan meriah seperti merah, biru, hijau, kuning dan putih. Sehingga kesan karya itu seperti karya anak-anak dan gaya Shiva ini bisa menjadi salah satu trend baru dalam perkembangan seni rupa di Tasikmalaya.

Karya yang sepertinya sejalan dan senafas dengan karya Shiva adalah karya Nana Suryana berjudul “Jejak Tangan Fungsi Otak dan Hati” (2023), Acrilyk on Kanvas 60X160. Seluruh kanvas penuh dengan warna-warna meriah seperti hijau, kuning, cokelat, putih, biru, orange dan lain-lainnya. Gambar beberapa tangan dalam warna yang berbeda seperti mengapung dan tidak beraturan, namun tetap dalam satu unity oleh sapuan warna kuning yang (sepertinya) menjadi back ground atau dasar dari karya ini.

Yang menarik adalah karya Tono Haryono berjudul “Harmonis II” (2022), Acrilyk on Kanvas 100X100. Karya Hitam-Putih ini memotret 5 ekor Jerapah yang diambil dari atas. Ke lima Jerapah itu seperti sedang bercengkrama sambil bersantai di sebuah tempat. Uniknya, warna hitam-putih yang menjadi dasar sosok Jerapah itu dibuat seperti dari gulungan benang. Sapuan-sapuan warna putih yang membuat sosok Jerapah itu mirip benang yang digulung, begitu pula warna hitam yang menjadi aksentuasi sosok Jerapah itu pun seperti tumpukan benang yang disimpan begitu saja.

Sosok Jerapah dalam karya itu yang, sepertinya, dibuat oleh gulungan benang tentu tidak lepas dari latar-belakang pelukisnya yang juga merupakan “pengrajin” bordir. Intensitas pergaulan dan pergulatannya dengan dunia bordir telah membawanya ke dunia Seni Rupa yang juga dia geluti. Tentu ini pun patut diberi ruang yang cukup agar eksplorasi daya dan gaya ucap keseni-rupaannya semakin menemukan ruangnya. Karena, latar belakang sosial-budaya seseorang dapat mempengaruhi penciptaan karya-karnya. Jadi wajar, jika Tono yang kesehariannya bergelut dengan dunia bordir kemudian (secara sadar ataupun tidak) akan mempengaruhi karya-karyanya.

Sementara itu karya Yusa Widiana berjudul “Membaca Langit, Menyentuh Bumi” (2023), Mix Media on Kanvas, 70X90 menggambarkan sebuah Kursi tua dan lusuh yang seperti tengah terapung. Dalam konteks objek Kursi, tentu ini cukup pas dan relevan dengan kondisi kekinian yang segera akan memasuki tahun politik. Karena Kursi dan Politik selalu identik dengan Kekuasaan. Sayangnya, warna hitam yang menjadi back ground Kursi itu kurang tegas dan kurang kuat. Hitam yang menjadi latar belakang kursi itu hanya sapuan tipis, sehingga kehilangan aksentuasi dan ketegasannya. Jika saja latar belakang Kursi itu dibuat hitam yang tegas dan kuat, tentu akan semakin membuat “relevan” karya itu dengan realitas yang tengah berlangsung sekarang ini.

Dari dua pameran dan beberapa peristiwa seni budaya yang digelar di Kota Tasikmalaya, tentu masih menyimpan beberapa persoalan krusial dan laten terutama soal dukungan pemerintah. Tapi di sisi lainnya, kita perlu bangga, karena terlepas dari wujud dukungan itu, paling tidak Pemerintah sudah memberikan perhatian, walau dalam koteks Seniman masih belum maksimal. Barangkali hal ini perlu adanya komunikasi atau dialog yang intens antara pekerja seni dengan berbagai “institusi” termasuk dengan pemerintah yang menjadi “Bapak Angkatnya”. Sehingga ditemukan solusi yang lebih bijak dan disepakati bersama. Semoga…***