banner 728x250
Opini  

Shaum Ramadan dan Produktivitas Kerja

Dadang Yudistira
Dadang Yudistira
banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Dr. H. Dadang Yudhistira, S.H., M.Pd.

KLIK PRIANGAN – Shaum Ramadan merupakan salah satu bentuk ibadah yang akan mengantarkan seorang muslim untuk menjadi hamba Allah yang bertakwa. Hal ini sebagaimana Al-Quran surah 2 Al-Baqarah ayat 183 yang artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Ketaqwaan seseorang di bulan Ramadan tidak akan menjadikan dirinya malas yang berakibat menurunnya produktivitas kerja.

Justru, bagi orang-orang yang bertakwa, di saat dia berpuasa dia akan tetap bekerja bahkan di sela-sela pekerjaannya dia isi dengan dzikir, dia isi dengan kesabaran, dia isi dengan pelayanan yang lebih baik, dia isi dengan kesholehan dl, Sehingga pekerjaannya makin bernilai ibadah.

Di saat istirahat kerja, yang biasanya digunakan untuk kongkow atau ngobrol, di saat bekerja sambil shaum Ramadan diisinya dengan tadarus Al Qur’an, dan amalan lainnya. Itu bagi orang-orang yang bertakwa dan ikhlas dengan puasanya.

Namun sebaliknya, bagi orang-orang yang berpuasa tidak dengan dorongan keikhlasan dan ketaqwaan, dia akan bermalas-malasan, bahkan tidur di saat seharusnya bekerja dan memberikan pelayanan terbaik. Jika bermalas-malasan dipastikan akan mengakibatkan produktivitas kerja menurun.

Selama ini, sering terdengar pernyataan orangn yang jika telat melaksanakan pelayanan atau telat dalam bekerja mengambil alasan maklum sedang berpuasa. Naudzubillah.

Sikap bermalas-malasan dalam bekerja di bulan Ramadan boleh jadi salah satu penyebabnya karena tidak menjalankan cara berpuasa yang benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW, diantaranya meninggalkan ibadah sahur.

Bagi orang-orang yang bertakwa, harus diyakini bahwa dalam sahur terdapat banyak keberkahan. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah SAW bahwa sesungguhnya dalam sahur terdapat banyak keberkahan.

Jadi bagi orang-orang yang tidak menjalankan sahur dipastikan tidak akan mendapatkan keberkahan. Secara medis kesehatan, ketika orang meninggalkan sahur maka dia telah memperpanjang waktu puasanya.

Jika sejak dia tidur pukul 22.00 dia tidak sahur, maka dia telah mengosongkan perutnya lebih lama. Dan secara kesehatan ini tidak baik. Akibatnya di siang hari dia kehausan dan kelaparan. Dampaknya, adalah lemah, letih, lesu dan akibatnya malas dalam bekerja. Akibatnya adalah menurunnya produktivitas kerja.

Maka, tidak benar jika ada orang sebulan penuh berpuasa tanpa sahur. Maka janganlah bangga mampu berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadan tanpa menjalankan ibadah sahur. Karena di dalam sahur terdapat banyak keberkahan.

Di sisi lain, orang yang meninggalkan sahur cenderung akan meninggalkan shalat shubuh, atau kesiangan ibadah shalat shubuh. Maka benar dalam sahur terdapat banyak keberkahan.

Maka bagi orang-orang yang berpuasa dengan benar sesuai tuntunan Rasulullah SAW, dengan menjalankan sahur sesuai tuntunan Rasulullah maka tidak ada alasan baginya untuk bermalas-malasan dan menurunkan produktivitas kerja selama berpuasa di bulan Ramadan.

Ramadan adalah bulan penuh barakah. Maka, sejatinya bekerja di bulan Ramadan seharusnya makin menunjukkan keberkahan. Caranya tetap bekerja sesuai target, tetap produktif dan dengan keyakinan bahwa pekerjaannya akan bernilai ibadah. Insyaalloh…..***

Catatan: Penulis adalah dosen STIABI Riyadul Ulum Pondok Pesantren Riyadlul Ulum Wadda’wah Condong Tasikmalaya.