banner 728x250
Opini  

Tiga Penyakit Politik Menggerogoti dan Mematikan Langkah Orang yang Memiliki Berintegritas

Puluhan perwakilan dari organisasi kemasyarakatan ikuti diskusi kebangsaan di Saung Melon, Kota Tasikmalaya. (Malik Ibrahim/"Klik Priangan").***
banner 120x600
banner 468x60

Aktivis, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan dan puluhan peserta lainya, ikuti diskusi kebangsaan di Indihiang, Kota Tasikmalaya. (Malik Ibrahim/”Klik Priangan”).***

KLIK PRIANGAN – Mahalnya ongkos politik tak sedikit politisi yang jelas mumpuni, berwawasan bahkan yang sudah senior di partainya, akhirnya harus terpelanting dan jatuh.

Ketika berbicara modal finansial orang-orang yang memiliki moral dan integritas tinggi untuk memajukan negeri ini, harus kandas

Hal ini menjadikan persaingan dalam pesta demokrasi tercederai dengan politik uang, kekuasan serta oligarki. Dimana mereka memiliki uang atau modal besar dibandingkan kualitas atau sumber daya manusia.

Ketua Komis IV DPRD Kota Tasikmalaya dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Dede Muharam mengungkapkan, yang menjadi kendala di negeri ini hingga kurang berjalan dengan baik dan benar, dikarena ada penyakit politik yang seolah terus dipelihara.

Anggota Dewan yang sudah 3 periode duduk di kursi DPRD Kota Tasikmalaya ini menyebut, sedikitnya ada tiga penyakit politik yang menggerogoti masyarakat di Indonesia khususnya di Kota Tasikmalaya.

Ketiga penyakit itu, kata Dede, yakni biaya politik yang sangat mahal atau High Cost Politic. Sehingga bisa mematikan langkah orang-orang yang punya integritas moral yang tinggi untuk memimpin negeri ini. Lantaran tidak memiliki finansial atau keuangan yang cukup banyak.

“Hal ini jelas berimbas terhadap pada pengelolaan negara yang kurang berjalan dengan bagus,” kata Dede, disela-sela menghadiri sekaligus memberikan materi dalam forum Diskusi Penguatan Ideologi Kebangsaan, di  menghadiri sekaligus memberikan materi dalam forum Diskusi Penguatan Ideologi Kebangsaan di Indihiang, Kota Tasikmalaya, Rabu (22/3/2023). 

Dikatakan Dede, kemudian adanya dominasi kekuasaan oleh para oligarki politik. Sehingga masyarakat yang memiliki kemampuan berpikir atau memiliki pola dan inovasi untuk mengembangkan tata kelola negara ke arah lebih maju, akan tersendat

Selain itu, lanjut Dede, adanya interlocking  Politic atau politik saling mengunci dari kasus. Sehingga tidak sedikit partai politik yang tidak berdaya karena sudah terjerat ileh kasus.

“Dan jika kita tidak mencoba untuk keluar dari tiga penyakit itu, maka bangsa ini tidak akan menjadi bangsa yang besar, juga bangsa yang baik dan benar,” sambungnya.

Ia menyebut, bentuk upaya selama ini yang dilakukan oleh pihaknya yakni, dengan terus melakukan diskusi juga edukasi terhadap masyarakat.

Karena menurutnya, sekarang ini masih banyak orang-orang yang mempunyai nurani serta akal pikiran sehat.  Dimana, akan terus bergerak mengajak masyarakat untuk berlaku baik.

Sementara dalam diskusi kebangsaan ini hadir puluhan tokoh masyarakat, akademisi, komunitas dan organisasi kemasyarakatan, yang ikut andil dalam diskusi ini. (P-2).***